Tangisan Fitri



Nenek sumirah telah tiada, kemarin malam masuk rumah sakit dan diperjalanan menghembuskan napasnya. Ia meninggal dikarenakan asmanya kambuh penyebabnya kabut asap yang kian hari semakin pekat. Isak tangis masih memenuhi rumah duka. Salah satu yang paling sedih si Fitri. Bagaimana tidak sejak kecil Fitri sudah tinggal bersama neneknya. Kedua orang tuanya sudah meninggal.

Hari kedua Fitri masih jua menangis. Semua tetangga merasa iba dengan gadis berusia 17 tahun itu. Mereka menyiapkan banyak makanan untuk tahlilan nenek sumirah. Tidak hanya makanan, biaya penggalian kuburanpun mereka membantu membayarnya. Mereka tahu Fitri tidak mempunyai uang sama sekali. Fitri baru lulus sekolah dan belum bekerja.

Hari ketiga Bu Ngatiem masih menghibur Fitri. "Sudah nduk ikhlaskan mbah mu" ucap bu Ngatiem menghibur. Hingga Fitri berhenti menangis. "Bude, Fitri nangis bukan karena mbah meninggal" tuturnya sambil mengelap ingusnya. Bu Ngatiem bingung bukan kepalang. Fitri melanjutkan "aku nangis karena utang mbah banyak. Aku bingung bayarnya."

Pentigraf

Riri Kude
Tanjung Pule,
Sabtu, 21 September 2019

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/anak-duduk-jeans-di-pintu-menangis-1816400/y

Komentar

  1. Twist nya dapat, mau ketawa takut dosa 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir ke blog amatiran 😁

      Hapus
  2. Aku mengingat suatu pristiwa ketika membacanya, tapi aku yakin Allah tahu keadaan Fitri. Niatnya sudah baik, semoga jalan kebaikan selalu bersamanya. Lanjutkan kakak semoga tulisannya senantiasa memotivasi 💓

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer