Air Mata Nenek Juminten
Kepulan asap menyeruak memenuhi dapur nenek Juminten. Tungku dari tanah liat yang ia beli 5 tahun lalu masih berdiri kokoh, hanya ada gompelan sedikit dibibir tungku. Kayu yang ia dapatkan dari belakang rumahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan memasaknya sehari-hari. Maklum nenek Juminten hanya tinggal seorang diri.
Nenek Juminten sering melamun. Memikirkan dulu ketika masih bersama suaminya. Mereka pernah berjanji akan memgumpulkan uang untuk pergi naik haji berdua. Impian suaminya meninggal di tanah suci, namun sebelum impiannya terkabul ia sudah kembali kepada haribaan Sang Pencipta.
Air matanya yang mengalir lekas ia seka dengan bajunya. Andai suaminya masih ada ia tidak akan sering menangis seperti sekarang. Siang itu terdengar suara pintu rumahnya diketuk beberapa kali. Ketika ia buka ada dua orang laki-laki sekitaran 35 tahun yang baru saja mengetuk pintunya. "Benar ini rumah nenek Juminten ?" tanyanya. Kedua laki-laki itu menyodorkan sebuah berkas. Karena nenek Juminten tidak bisa membaca. Jadi merekalah yang membacakan. Setelah mendengar penuturan kedua laki-laki itu. Nenek Juminten langsung bersujud. "Beneran Le saya akan naik haji." Air matanya bercucuran semakin deras. Ternyata suaminya sebelum meninggal telah mendaftarkannya haji.
Tanjung Pule,
Sabtu, 21 September 2019
Nenek Juminten sering melamun. Memikirkan dulu ketika masih bersama suaminya. Mereka pernah berjanji akan memgumpulkan uang untuk pergi naik haji berdua. Impian suaminya meninggal di tanah suci, namun sebelum impiannya terkabul ia sudah kembali kepada haribaan Sang Pencipta.
Air matanya yang mengalir lekas ia seka dengan bajunya. Andai suaminya masih ada ia tidak akan sering menangis seperti sekarang. Siang itu terdengar suara pintu rumahnya diketuk beberapa kali. Ketika ia buka ada dua orang laki-laki sekitaran 35 tahun yang baru saja mengetuk pintunya. "Benar ini rumah nenek Juminten ?" tanyanya. Kedua laki-laki itu menyodorkan sebuah berkas. Karena nenek Juminten tidak bisa membaca. Jadi merekalah yang membacakan. Setelah mendengar penuturan kedua laki-laki itu. Nenek Juminten langsung bersujud. "Beneran Le saya akan naik haji." Air matanya bercucuran semakin deras. Ternyata suaminya sebelum meninggal telah mendaftarkannya haji.
Tanjung Pule,
Sabtu, 21 September 2019
Komentar
Posting Komentar