Darto
Rabu, 18 september 2019
Pagi buta kabut asap masih menyelimuti perkampungan di mana Darto tinggal. Pompa air dan selang besar sudah ia siapkan di teras rumahnya. Darto melajukan motor bututnya menuju lokasi kebakaran. Kemarin malam anala melahap perkebunan sawit milik bosnya, mau tidak mau Darto harus bekerja ektra keras untuk memadamkannya.
Senja telah padam. Berganti malam yang kelam. Jemari Darto mengetuk-ketuk meja jati di depannya. Pelipisnya ia pijat-pijat dengan jemari sebelahnya. Ia pusing bukan kepalang. Istrinya sepanjang hari uring-uringan. Bagaimana tidak, Darto dari pagi sampai malam hanya mengurusi api saja. Pergi sebelum subuh dan pulang sesudah magrib.
Siang ini anila mengambil cuti. Darto tanpa baju tiduran di terasnya berbantalkan tangan. Matanya mulai terpejam namun suara mobil mengagetkannya. Suara yang tidak asing lagi, seorang pria separuh baya keluar membawa bungkusan plastik. "Darto terima kasih ya. Kamu sudah bantu padamin api. Ini ada uang yang gak seberapa" bosnya menyodorkan uang 100 ribu 20 lembar. Istrinya dari balik jendela melihatnya dengan girang. Darto menolaknya, namun bosnya terus memaksa. Akhirnya ia terimalah uang tersebut. Malamnya istrinya bertanya kenapa suaminya hendak menolak uang dari bosnya. "Dek sebenarnya penyebab kebakaran kemaren abang. Abang gak sengaja jatuhin putung rokok di kebun"
Pagi buta kabut asap masih menyelimuti perkampungan di mana Darto tinggal. Pompa air dan selang besar sudah ia siapkan di teras rumahnya. Darto melajukan motor bututnya menuju lokasi kebakaran. Kemarin malam anala melahap perkebunan sawit milik bosnya, mau tidak mau Darto harus bekerja ektra keras untuk memadamkannya.
Senja telah padam. Berganti malam yang kelam. Jemari Darto mengetuk-ketuk meja jati di depannya. Pelipisnya ia pijat-pijat dengan jemari sebelahnya. Ia pusing bukan kepalang. Istrinya sepanjang hari uring-uringan. Bagaimana tidak, Darto dari pagi sampai malam hanya mengurusi api saja. Pergi sebelum subuh dan pulang sesudah magrib.
Siang ini anila mengambil cuti. Darto tanpa baju tiduran di terasnya berbantalkan tangan. Matanya mulai terpejam namun suara mobil mengagetkannya. Suara yang tidak asing lagi, seorang pria separuh baya keluar membawa bungkusan plastik. "Darto terima kasih ya. Kamu sudah bantu padamin api. Ini ada uang yang gak seberapa" bosnya menyodorkan uang 100 ribu 20 lembar. Istrinya dari balik jendela melihatnya dengan girang. Darto menolaknya, namun bosnya terus memaksa. Akhirnya ia terimalah uang tersebut. Malamnya istrinya bertanya kenapa suaminya hendak menolak uang dari bosnya. "Dek sebenarnya penyebab kebakaran kemaren abang. Abang gak sengaja jatuhin putung rokok di kebun"

Komentar
Posting Komentar