Koleksi Mainanku
Aku tidak suka pada pekerjaan bapak. Ia bekerja berkeliling komplek atau pasar dengan berjalan kaki. Menjajakan mainan ke mana-mana. Ada hal yang paling membuatku jengkel ketika bapak berjualan tepat di depan halaman sekolahku. Aku kesal padanya, sangat kesal.
Berulang kali aku katakan bapak untuk tidak menjajakan mainannya di depan sekolahku. Tetapi bapak tidak pernah mendengarkan. Aku hanya bisa mendengus kesal. Melihatnya membereskan mainan di ruang tamu. Hari ini aku sedikit tertatih dalam perjalanan pulang. Maklum jarak sekolah ke rumah lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Di kesunyian terik siang ini terdengar suara dari arah yang berlawanan. "Sayang anak.... sayang anak...." tanpa berpikir lagi itu pasti teriakan khas bapak. Namun suaranya mulai menjauh, mungkin bapak berbelok ke gang-gang di depan sana.
Ketika sampai di rumah. Mataku mulai basah. Emosiku memuncak. Dan kuingin berteriak sekencang-kencangnya walaupun tidak bisa. Lemari tempat menyimpan mainan yang biasa kupandangi kini kosong tak berisi, semuanya ludes. Inilah yang tidak kusuka dari bapak. Ia selalu mengambil mainanku yang masih terbungkus rapi di lemari untuk dijual lagi.
Pentigraf
Indralaya, 22 Oktober 2019
Sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/anak-menara-blok-bangunan-blok-1864718/


Kereen, lucu ending-nya haha
BalasHapusMksh dek
Hapus