Kita dan Sore
Sepasang burung mematai kita sambil terkekeh.
Di atas pohon, tempat kita gaduh dan berteduh.
Mentari mulai meredupkan biasnya, bersiap memeluk malam.
Di samping kita rentetan semut mulai mencibir
Melihat kita yang tak juga minggir
Ah! Kita tak pernah peduli pada waktu yang merambat pergi
Esok tak mungkin sama lagi.
Sebisa kita, mengukir di atas awan yang tak kikir
Sore menawarkan janji yang tak selalu tepat
Kadang datang membawa jingga yang sedap untuk ditatap
Di lain sore, hanya cahya sayu meratap
Namun, kita tetap menatap langit sore dengan sepakat.
Kita dan sore tidak terpisah.
Burung, semut dan langit juga tak mau kalah
Namun, kita dan sore kini tiada lagi. Walau tanpa kata pisah.
Indralaya Utara, 9 November 2019

Kita dan sore, selalu bisa dijadikan objek perpisahan juga berpadu π. Suka dengan tulisan nya, ditunggu tulisan lainnya^^
BalasHapusSiap.
HapusBoleh ga Mba kalo kita dan sore tetap ada?
BalasHapusRata-rata puisi diakhiri dengan kata "tiada", "pergi", "pisah", "tak kan kembali" ya Mba. π Suasana yang ditimbulkan juga selalu sedih.
π’
HapusSore selalu menjadi simbol perpisahan. Puisi yang mengalir lembut. Ah, apalah sok tau dengan puisi. Hehe
BalasHapusDitunggu puisinya yang lain.
Aku suka sore , karena pemandangan senja yang indah. Begitupun aku suka dengan kata-kata oleh peramunya. Mabk Riri kudeπΊ
BalasHapus