Hari Ibu: Mengambil Hikmah dari Kisah Ulama

 

Membicarakan ibu adalah tentang mendaras kasih, teguh dan tangguh. Menjadi sosok ibu tidak hanya berujung pada tahap mengandung dan melahirkan saja. Namun ada amanah yang tersampir di pundak, tangan yang menuntun anaknya untuk mengenal A,B,C, mengenal angka dan berhitung. Juga ada kaki yang membantu menitah anaknya menuju jalan ke kiri atau ke kanan. 

Begitu beratnya menjadi seorang ibu, hingga setiap tanggal 22 Desember dunia maya akan diramaikan dengan berbagai postingan tentang ibu. Ada yang berbagi momen kebersamaan dengan ibu, mengenang ibunya yang telah tiada, atau membagikan sosok wanita tangguh seperti pejuang wanita dan lainnya.

Hari Ibu yang dideklarasi pertama kali pada 22 Desember 1928, di Yogyakarta. Dengan dihadiri oleh  perwakilan dari perkumpulan Budi Utomo, PNI, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah, dan Jong Islamieten Bond. Juga beberapa tokoh terkenal lainnya. Pada kongres ke-25 melalui Dekrit Presiden RI NO.316 Tahun 1953, Presiden Sukarno menetap tanggal 22 Desember dengan resmi menjadi Hari Ibu. 

Begitu beratnya menjadi seorang ibu, sehingga dalam Islam Allah memberikan keistimewaan kepadanya. Salah satu hadits dari Ibnu Majah, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah berwasiat 3x kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat.”

Dengan adanya keistimewaan yang Allah berikan kepada ibu, banyak teladan yang bisa kita lihat dari para Ulama yang sangat mengistimewakan ibunya, antara lain:

1. Iyas Bin Mu’awiyah

Ketika ibunya meninggal dunia, ia tidak bisa menutupi kesedihannya. Bahkan air matanya juga dak dapat disembunyikan. Hingga seseorang bertanya kepadanya, apa penyebab beliau begitu berlebihan dalam bersedih. Iyas Bin Mu’awiyah menjawab “Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka untuk menuju surga, namun sekarang salah satunya telah terkunci.”

MasyaAllah jawaban yang sangat menampar diri kita, bukan?

2. Abu Hanifah

Suatu ketika ibunya bersumpah dengan satu sumpah, yang kemudian dilarang oleh Abu Hanifah. Namun ibunya tidak merasa mantap dengan fatwa beliau. Hingga ibunya minta diantarkan ke rumah Zu’rah Al-Qash untuk mendapatkan fatwa darinya. Walaupun Zu’rah Al-Qash lebih rendah ilmunya dibanding Abu Hanifah tetapi Abu Hanifah tidak marah kepada ibunya ketika lebih mempercayai Zu’rah Al-Qash. Abu Hanifah tetap merasa rendah hati dihadapan ibunya.

3. Uwais Al Qarni

Siapa yang tak mengenal Uwais Al Qarni? Laki-laki yang tidak dikenal di bumi tetapi terkenal di langit. Buah dari memuliakan ibunya hingga Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih ditubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian” (HR.Muslim)

Masih banyak lagi ulama yang memberikan keistimewaan kepada ibunya hingga mendapat jaminan surga. Semoga dari ketika kisah di atas kita bisa mengambil pelajar. 

Selamat hari ibu untuk ibuku dan seluruh ibu Indonesia. 

#WAGFLPSumselMenulis

#lampauibatasmu

#FLPOganIlir


Komentar

Postingan Populer