Senang atau Sedih Tetaplah Bersyukur


“Jiwa-jiwa yang tiada bersyukur akan tumbang di kala ombak ujian menghantamnya dengan keras.  Putus asa, iri hati dan dengki selalu menggelayut hingga menenggelamkan sang pemilik jiwa ke dalam tempat yang dapat menghinakannya.
Namun kala jiwa-jiwa yang sering bersyukur maka sebuah ketenangan yang akan menenggelamkannya dalam lautan kedamaian”

~ Riri Kude ~

Allah selalu mempunyai rencana yang indah bagi para hambanya. Misalkan suatu hari kita mempersiapkan rencana-rencana untuk menyongsong kehidupan kedepan. Namun dari semua yang telah terencana tersebut, tiada satupun terealisasikan. Setelah itu akan timbul di hati kita begitu banyak pertanyaan. Mengapa ini terjadi? Mengapa hidup ini tidak adil? Mengapa kegagalan selalu menghampiri dan menetap? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bergelayut di dalam pikiran sehingga cenderung menyalahkan-Nya. Menyalahkan orang lain juga kerap kali terjadi. Karena merasa kegagalan-kegagalan dalam hidup kita penyebabnya adalah orang lain. Kita tidak pernah mengoreksi penyebab dari kegagalan tersebut. 

Jiwa-jiwa yang tidak pandai dalam bersyukur akan mudah melemahkan hati dan pikirannya. Hati yang fitrahnya bersih bermunculan noktah-noktah yang memenuhinya. Noktah itu adalah penyakit hati seperti iri, dengki, hasud dan lain-lain. Dalam hadits riwayat Abu Daud mengatakan bahwa iri, dengki dan hasud dapat mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu. Begitu mengerikannya penyakit hati jika terus dibiarkan bersarang di hati kita. Berbeda dengan jiwa-jiwa yang menjadikan syukur sebagai pacuan dalam hidupnya. Bukan hanya ketika mendapatkan rezeki yang berlimpah, naik pangkat, lulus dalam ujian sekolah, mendapat beasiswa keluar negeri dan lain-lain. Namun ia akan tetap bersyukur dikala ombak ujian menghampirinya dan menerjang habis semua yang dimilikinya. Hanya kata “Alhamdulillah” yang menguatkan. 

Berikut sebuah kisah dari seseorang yang akan menambah rasa syukur dalam diri. Cerita ini di riwayatkan oleh Abu Ibrahim.

Suatu hari ketika ia tersesat di padang pasir ia bertemu dengan lelaki tua, yang tidak mempunyai tangan, matanya buta dan hidup sebatang kara. Setelah ia mendekati lelaki tua itu, Abu Ibrahim mendengar lelaki itu mengulang-ulang kalimat. “Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia” kata yang di ulang. Abu Qilabah memberikan sebuah pertanyaan kepada lelaki tua itu perihal kalimat yang diucapkannya berkali-kali.
“Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangganmu dan sebatang kara” tanya Abu Ibrahim.
“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia. Bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berpikir ?” jawabnya.
Lelaki tua itu bernama Abu Qilabah, ia adalah seorang ulama yang mendapatkan musibah sehingga ia menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh di padang pasir.

Menilik kisah Abu Qilabah sebuah pelajaran bisa kita dapatkan darinya. Orang-orang yang bersyukur adalah mereka yang begitu dekat dengan Rabbnya. Percaya bahwa Allah tidak pernah membedakan derajat manusia. Namun hanyalah keimanan saja yang membedakan satu manusia dengan manusia lainnya. Mereka yang memiliki panca indera tidak lengkap lebih cenderung pandai dalam bersyukur. Seperti Abu Qilabah yang memiliki alat indera kurang sempurna bibirnya selalu basah menyebut Asmanya. Namun kita seorang hamba yang dititipkan panca indera yang lengkap tanpa kurang satupun sering kali lebih banyak berkeluh-kesah. Kita sering lupa untuk bersyukur, lupa posisi dimuka bumi  hanyalah sebagai seorang hamba, dan lupa bahwa di dunia ini adalah fana. 

Syukur tiada mengenal sedang mendapat titipan rezeki atau ketika musibah menimpahkan hidup kita. Namun bersyukur adalah pengabdian jiwa kita kepada sang Rabb. Mengikhlaskan segala hidup ini kepadaNya dan meyakinkan diri bahwa semua akan kembali padaNya. Jadikanlah diri kita menjadi sebaik-baiknya manusia dengan segala usaha kita. 

Jika kau telah berada di jalan Allah, melesatlah dengan kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari meski keccil langkahmu. Bila engkau lelah, berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua itu tak mampu kau lakukan, tetaplah maju meski terus merangkak, dan jangan pernah sekalipun berbalik ke belakang”.
Asy Syafi’i


Komentar

  1. Manusia memang tempatnya lupa. Lupa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita. Tulisan ini mengingatkanku akan selalu bersyukur atas nikmat yg diberikan-Nya.

    BalasHapus
  2. Bersyukur memang perkara yang terlihat sederhana. Tapi seringkali tidak sesederhana pengaplikasiannya. Banyak momen-momen yang harusnya disyukuri, dan yang terjadi adalah sebaliknya. Semoga bisa meneladani sifat Abu Qilabah, aamiin.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer