Menjejak tanah aksara dewanagari
sang pagi menggelayut manja pada hujan yang merintih
mengiringi laju bus yang kunaiki
sebuah perjalanan kesekian ku menjejak tanah kelahiran
lewat kaca jendela lanskap penghijauan tersaji apik
ratusan pohon ubi di tanah berhektar-hektar,
sawah berpetak-petak menghijau,
nyiur berjajar melambai
membawaku selalu terhanyut menikmati kuasa-Nya
aksara dewanagari terlihat eksotis
digoreskan ditiap-tiap tugu selamat datang
menuntunku menuju bukubuku usang sekolah dulu
walau ku tak pernah paham bahasa lampung
tetap ini tanah kelahiranku
beribu kenang terukir di sini
sang bumi ruwai jurai
tanah subur nan permai yang selalu kurindui.
sampai jumpa kita dijejak kesekian
yang mengajarkan sebuah rasa ke syukuran
Ruang rindu, 2020
sang pagi menggelayut manja pada hujan yang merintih
mengiringi laju bus yang kunaiki
sebuah perjalanan kesekian ku menjejak tanah kelahiran
lewat kaca jendela lanskap penghijauan tersaji apik
ratusan pohon ubi di tanah berhektar-hektar,
sawah berpetak-petak menghijau,
nyiur berjajar melambai
membawaku selalu terhanyut menikmati kuasa-Nya
aksara dewanagari terlihat eksotis
digoreskan ditiap-tiap tugu selamat datang
menuntunku menuju bukubuku usang sekolah dulu
walau ku tak pernah paham bahasa lampung
tetap ini tanah kelahiranku
beribu kenang terukir di sini
sang bumi ruwai jurai
tanah subur nan permai yang selalu kurindui.
sampai jumpa kita dijejak kesekian
yang mengajarkan sebuah rasa ke syukuran
Ruang rindu, 2020

Meski kaki ini jauh melangkah, namun rindu pada kampung kelahiran itu tak pernah ada obatnya.
BalasHapus👏👏
Hapus